Minggu, 01 Desember 2013

PP ROUDLOTUT THOLIBIN


PROFIL YAYASAN 1. Identifikasi Lembaga Nama lembaga : Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin NSPP : 512357401001 NPWP : 02.266.135.9.625.000 Kantor Pusat : Jl. KH. Fadlol No.970 Kademangan Kota Probolinggo Jawa Timur Telp.(0335) 420743, 4438343 Kantor Cabang : Jl. Prof. Dr. Hamka No.54 A Kademangan Kota Probolinggo Jawa Timur 67225 Telp. (0335) 427092. Pengasuh : KH. Abdul Mujib Ketua Yayasan : Abdullah Zabut Kontak person : Abdullah Zabut (081249692345) Tahun pendirian : 1875 M / 1296 H. Akta Notaris : Notaris Untung Darnosoewirjo, SH. Probolinggo. Badan Hukum : No. 31 Tgl. 16 Oktober 1985. Rekening Giro BNI : 0112054483 2. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin didirikan oleh Ky. Pakis bin Alawi bin Samlawi bin Alawi bin Abdurrahman bin Pangeran Kidul bin Sunan Giri. Latar belakang pendirian pesantren tersebut dikarenakan masyarakat sekitar masih banyak yang melakukan kemungkaran (proses islamisasi) serta bertujuan menggalang persatuan dan kesatuan untuk mengusir penjajah (Belanda). Ky. Pakis wafat tahun 1875 M / 1296 H yang selanjutnya dianggap sebagai bukti terakurat berdirinya lembaga ini, sepeninggal Ky. Pakis, kepengasuhannya dilanjutkan oleh Ky. Anom (menantu). Sepeninggal Ky. Anom dilanjutkan oleh Ky. Mushohib yang di kenal dengan sebutan KH. Gedangan (menantu Ky. Anom). Sewaktu diasuh KH. Gedangan, banyak santri yang menginap dan didirikanlah beberapa pondokan yang kemudian dikenal dengan nama pondok Kareng/pondok Gedangan dan banyak melahirkan Kiyai/ulama besar seperti Ky. Anom asal lumajang, Ky. Syarifuddin (Pengasuh Ponpes Wonorejo Lumajang), Ky. Randu Mangu Jrebeng Lor dan KH. Abdul Hamid di Jl. KH. Abdul Hamid Probolingo. Setelah KH. Gedangan wafat diteruskan oleh puteranya, KH. Fadlol yang juga dibantu oleh KH. Ahsan Baqir, tidak lama kemudian diserahkan kepada kemenakan KH. Ahsan Baqir yaitu KH. Bisri yang wafat pada tahun 1947 kemudian dilanjutkan oleh KH. Shodik (Pripean KH. Bisri) karena KH. Shodik pindah tempat kemudian dilanjutkan oleh Ky. Hamid (putra KH. Ahsan Baqir), kemudian diserahkan kepada KH. Zahed (menantu KH. Ahsan Baqir) yang wafat pada tahun 1961. Setelah itu fakum dan terjadi penurunan aktifitas pesantren seperti biasanya. Baru pada tahun 1970, KH.Fadhol menyerahkan pengelolaan pesantren kepada KH. Abdul Mujib Abdullah. Berpijak dari latar belakang keilmuan dan prinsip yang dimiliki beliau, lahirlah inisiatif untuk mendirikan lembaga pendidikan formal dan semakian menggiatkan kegiatan pengajian Kitab Kuning. Keberadaan ini sangat didukung antusias masyarakat dengan semakin berdatangannya santri yang berminat mendalami Ilmu-ilmu agama. Karena perkembangan yang sangat pesat maka pada tahun 1985 dengan resmi seluruh unit yang dikelola pesantren bernaung di bawah dalam satu atap yang berbadab hukum yaitu Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin. Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin merupakan wadah yang lahir atas kesadaran untuk memperbaiki kondisi masyarakat (anak bangsa) yang masih banyak keterbelakangan dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, akhlak dan budi pekerti. Untuk mewujudkan maksud dan tujuan tersebut maka Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin antara lain berusaha mengurangi tingkat keterbelakangan masyarakat secara keseluruhan, meningkatkan pelayanan masyarakat di bidang pendidikan, pelatihan dan kemaslahatan akhlak merupakan skala prioritas dan konsentrasi kerja yayasan. Seiring dengan dinamika dan perkembangan masyarakat, Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin senantiasa melakukan pembenahan-pembenahan menegemen untuk merubah paradigma lama menjadi paradigma baru yang kemudian direalisasikan dengan membuka lembaga formal dan non formal yang diperuntukan menampung anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk memperoleh hak belajar/pendidikan yang layak dan terjangkau dengan pertimbangan “Pendidikan” hanya kepunyaan orang yang mapan dalam bidang ekonomi. Disadari, karena berbagai keterbatasan sistem dan SDM maka Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin juga melakukan berbagai kegiatan di bidang pelatihan/pendampingan pemberdayaan masyarakat yang diperuntukkan untuk anak didik yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi Namun demikian, apabila melihat potensi santri dan pengelola serta ribuan alumni yang tersebar di berbagai kota/kab di Jawa Timur seperti : Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, Jember, Situbondo, Surabaya, Sidoarjo dan Madura, maka yayasan telah memproyeksi lahirnya suatu Lembaga Pendidikan tinggi atau Perguruan Tinggi yang sudah sangat dibutuhkan oleh santri, wali murid/santri khususnya dan warga Masyarakat Kota Probolinggo pada umumnya. 3. Visi Terwujudnya Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin sebagai pusat pendidikan yang berbasis pesantren, melaksanakan amar ma’ruf nahi mungkar demi kebahagiaan dunia akhirat. 4. Misi Mewujudkan fungsi dan peranan Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin sebagai lembaga pendidikan yang menunjang sektor-sektor yang lain: a. Membina manusia muslim yang bertaqwa, berakhlak luhur, berpengetahuan luas sehingga berguna bagi agama, bangsa dan negara b. Mendidik dan mempersiapkan putra-putri bangsa menjadi generasi yang terampil dan mampu merespon perkembangan / tantangan zaman c. Memajukan dan mengembangkan yang baik dan sesuai dengan tuntunan Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah d. Menjadikan pemahaman membaca kitap kuning sebagai produk unggulan, menggagas, membahas, menjawab problema sosial serta tantangan zaman. 5. Arah Kebijakan Pembangunan a. Pemberdayaan masyarakat miskin serta menyediakan SDM yang berkualitas b. Pemenuhan kebutuhan pendidikan atas dasar masyarakat c. Pembangunan pendidikan berbasis lingkungan d. Pendidikan berkelanjutan, pelaksanaan pendidikan yang berkesinambungan dengan dimensi waktu yang tidak terbatas serta memperhatikan urgenisitas pemeratan, keserasian sekaligus menimbulkan aktifitas yang berkelanjutan. e. Memajukan yayasan pesantren sebagai pendidikan yang berbasi pesantren, melaksanakan amar ma’ru nahi mungkar demi kebahagiaan dunia akhirat f. Menjadikan tenaga yang siap pakai sesuai dengan karakter sosial, budaya masyarakat yang berskala nasional 6. Loyalitas Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin 1. Melaksanakan semua kebijakan pemerintah sesuai dengan kondisi yayasan 2. Taat terhadap ketentuan pemerintah dalam melaksanakan wawasan wiyata mandala di tambah aturan-aturan yang lain yang relevan 3. Program biasiswa bagi yang beprestasi dan membantu masyarakat miskin mendapatkan pendidikan dengan tanpa di pungut biaya. 4. Melaksanakan Program beasiswa bagi santri/siswa yang berprestasi untuk melanjutkan pendidikan baik didalam maupun luar negeri. 7. Lembaga pendidikan Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin mengadopsi dua sistem pendidikan yaitu: 1. Pendidikan Salafiyah (Klasikal): a. Madrasah Diniyah b. Pengajian Kitab Kuning (Majlis Ta’lim) c. Halaqoh Diniyah 2. Pendidikan Kholafiyah (Modern): a. Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) b. Taman Kanak-kanak (TK) c. Madrasah Ibtidaiyah (MI) d. Madrasah Tsanawiyah (MTs) e. Madrasah Aliyah (MA) f. Sekolah Menengah Atas (SMA) 3. Lembaga Kursus dan Pelatihan a. Roubin Englihs Course (REC) b. BLK Konfeksi c. Pertanian 4. Unit Usaha a. Koperasi Pondok Pesantren (KOPPONTREN) b. Poliklinik Pesantren (POLITREN) c. Pertanian d. Usaha Lain 8. Keberadaan Jumlah Santri/Siswa 1. Santri/Siswa yang mukim : a. Putera : 632 Orang b. Puteri : 746 Orang 2. Santri/Siswa yang tidak Mukim (berangkat dari rumah) : a. Putera : 148 Orang b. Puteri : 197 Orang 3. Jumlah total santri/siswa putera-puteri 1.726 0rang 9. Keberadaan Lokasi : 1. Luas Bangunan yang ada : a. Ruang Asrama Santri : 2.195 M2 b. Ruang Kelas Belajar : 4.974 M2 2. Luas lahan kosong yang belum dibangun dan berupa pekarangan : 26.520 M2 3. Luas lahan pertanian berupa sawah yang digarap untuk tempat pelatihan : 33.500 M2 10. Penutup Demikian Profil Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin Kademangan Kota Probolinggo Jawa Timur. Wassalam Probolinggo 18 Juli 2010 PENGURUS YAYASAN PESANTREN RODLOTUT THOLIBIN KADEMANGAN KOTA PROBOLINGGO ABDULLAH ZABUT ABDUL KARIM Ketua Sekretaris SUSUNAN KEPENGURUSAN YAYASAN PESANTREN ROUDLOTUT THOLIBIN KADEMANGAN KOTA PROBOLINGGO TAHUN 2009-2014 Pengasuh : KH.Abdul Mujib Abdullah Ketua : Abdullah Zabut Wakil Ketua : Ky. Abdurrahman Wakil Ketua : Drs. Riyanto, MBA. MM. Wakil Ketua : Ky. Sueb Abdullah Wakil Ketua : Syafiuddin, S.Pd. Sekretaris : Abdul Karim, A.Ma.Pd Wakil Sekretaris : Gus Abdullah Masrur Wakil Sekretaris : Abdul Ghofur, S.Ag. Wakil Sekretaris : Moch. Taufik, S.Pdi. Bendahara : KH. Bisri 1. Biro Kepesantrenan : Ustadz Syuhada' Nasrullah Ustadz Babul Khoir, S.Pd. Ustadz Samsul Ustadz Moch. Ro'is 2. Biro Pendidikan : Nasihin, S.Pd. Drs. M. Thohir Palembang M. Darussalam,S.S Drs. Edy Suyanto Babul Hoir, S.Pd. 3. Biro Humas : Imam Syafi'i, S.Pd Jamaluddin Zainal Abidin Ky. Ahmad Hadist BADAN OTONOM A. Lembaga Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat Ketua : Nursalim, S.Pd. Sekretaris : Abdul Hamid, S.Pd.I Anggota : Juliaman, S.Pd.I Guntur Dedi Alimo, S.Pd. Mustofa Baqir, S.Ag. B. Lembaga Pemberdayaan Ekonomi dan Kewirausahaan Pesantren Ketua : H. Yusuf Zainal Qubro, SE. MM. Sekretaris : Yahya Ulumuddin, S.E Anggota : Abdul Karim Mujib Abdul Muhid , S.P C. Lembaga Pemberdayaan Perempuan Ketua : Anisah Rahmawati, S.Ag. Sekretaris : Halimah, S.Pd. Anggota : Lailiatul Qodriyah, SE. Ny. Siti Aminah Siti Ma'munah Zumzumi, S.Pd. Mukarromah, S.Pd. Aan Masyafaah, S.Ag. Amanah, S.Ag. D. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pesantren Ketua : H. Badrus Zamam, SE. Sekretaris : Ahmad Fais, S.Ag, M.Si. Anggota : Abdul Malik Haromain, M.Si Sukardi Mitho Drs. Abdul Halim, SH, MH. PENGURUS YAYASAN PESANTREN ROUDLOTUT THOLIBIN ABDULLAH ZABUT ABDUL KARIM Ketua Sekretaris PERGURUAN TINGGI PONDOK PESANTREN ROUDLOTUT THOLIBIN KADEMANGAN KOTA PROBOLINGGO 1. Latar Belakang Pendirian : Menyadari bahwa Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh Hikmad Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan dan Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia merupakan Ideologi Negara dan Falsafah Bangsa Indonesia. Meyakini bahwa Islam adalah Agama Rahmatan Lil ‘Alamin, Ajaran tertinggi manusia yang mengajarkan Keselamatan, Kedamaian dan Kesejahteraan serta Keadilan bagi hamba-NYA. Adalah suatu kewajiban bagi setiap Insan muslim Indonesia, mengejawantahkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai perwujudan kesadaran berbangsa dan bernegara dan menjaga keutuhan dan komitmen kebangsaan dan keagamaan. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin berkewajiban dan bertanggung jawab mengemban kesadaran dan keutuhan serta komitmen tersebut demi meningkatkan harkat dan martabat insan muslim Indonesia dan membebaskannya dari kebodohan dan kemiskinan baik berbentuk materiil maupun spirituil. Maka untuk mewujudkannya, atas dasar desakan dan kepercayaan masyarakat, Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin merasa terpanggil turut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membentuk suatu wadah pendidikan tinggi / Sekolah Tinggi. Banyaknya lulusan SMA/MA atau alumni Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang tersebar di Daerah Lumajang, Jember, Kab. Probolinggo, Pasuruan, Surabaya/Sidoarjo, Pulau Gili Katapang dan masyarakat di sekitar Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang mengharap serta menghendaki Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin mendirikan Pendidikan Tinggi Islam. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin secara geografis terletak di pinggiran Kota Probolinggo dan merupakan jalur utama penghubung antara Surabaya – Jember sehingga Pendidikan Tinggi yang akan didirikannya akan menjadi satu – satunya Pendidikan Tinggi Islam yang tepat berada di daerah perkotaan yang berada dijalur utama trayek Surabaya - Jember sehingga memudahkan akses Transportasi, informasi dan komunikasi. Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin ditopang oleh nama besar Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin Probolinggo dan Pengasuh Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yakni KH. Fadlol dan KH. Mujib Abdullah yang mengakar kuat dalam hubungan kegamaan dan sosial kemasyarakatan khususnya di Kota Probolinggo dan sekitarnya. Tepat tertanggal 29 Juni 2011 dilaksanakan rapat pleno Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin memutuskan dan membentuk tim 9 (sembilan) sebagai panitia persiapan pendirian Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin Probolinggo yang kemudian disingkat STAIR Probolinggo berfungsi mempersiapkan seluruh persyaratan formal yang harus dipenuhi untuk kegiatan dan tujuan dimaksud, diantaranya adalah melakukan koordinasi dengan Kopertais Wilayah IV Surabaya dalam penyusunan proposal pengajuan berdirinya STAIR Probolinggo dan mempersiapkan seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh STAIR Probolinggo termasuk di dalamnya dosen/tenaga pendidik dan hal–hal lainnya yang terkait. Dengan demikian maka Pendirian STAIR Probolinggo memberikan kesempatan kepada setiap warga Negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan dan pengajaran yang mengarah pada perwujudan Sistem Pendidikan Nasional yang berwawasan lingkungan, selaras dengan rumusan tujuan pendidikan Nasional sebagaimana tercantum dalam GBHN yakni : “ Pendidikan Nasional berdasarkan Pancasila bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, disiplin, bekerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terampil serta sehat jasmani dan rohani. Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo berdiri pada tahun 1985 M. / 1406 H., merupakan Lembaga Pendidikan sayap Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin / PPRT yang berpusat di daerah perkotaan dan berperan sebagai pusat pendidikan dan pengajaran ilmu pengetahuan Islam (Tafaqqohu Fiddin). Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman, Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo terus berbenah diri dalam upaya menjawab kebutuhan masyarakat demi terwujudnya masyarakat madani, tatanan masyarakat berbasis keilmuan, keislaman dan kebangsaan. Kehadirannya sejalan dengan tujuan Nasional Indonesia sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Dasar 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan tercapainya masyarakat yang adil dan makmur berlandaskan Pancasila dan Undang–Undang Dasar 1945 adalah suatu keniscayaan bagi Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin untuk terlibat secara langsung maupun tidak langsung mempersiapkan kader-kader pemimpin masa depan sehingga pilihan memiliki Perguruan Tinggi Agama Islam merupakan hal yang mutlak tidak dapat ditunda. 2. Visi, Misi dan Tujuan : a. Visi : Menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dalam mewujudkan keseimbangan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual. b. Misi : 1) Mengantarkan mahasiswa memiliki kemantapan aqidah, kedalaman spiritual, keluhuran akhlak, dan keluasan ilmu pengetahuan. 2) Memberikan layanan kepada civitas akademika dan masyarakat dalam menggali ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 3) Mengembangkan pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat melalui kinerja internal dan eksternal. 4) Mengembangkan college base management dengan pelibatan stake holder dan masyarakat. 5) Mewujudkan tempat rujukan dalam keteladanan nilai-nilai Islam dan budaya bangsa. 6) Membangun Pusat pengkajian Ilmu-ilmu Keislaman dan ilmu pengetahuan Barat. 7) Membangun dan memperkokoh jaringan dengan PTN, PTS dan PTAI se Indonesia c. Tujuan. Secara umum tujuan yang telah digariskan oleh Sekolah Tinggi Agama Islam Roudlotut Tholibin disingkat STAIR Probolinggo ialah membantu pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Berakhlak mulia, cakap, kreatif, mandiri, demokratis dan bertanggung jawab. Pada sisi lain STAIR Probolinggo memiliki tujuan institusional yakni menghadirkan dasar-dasar pemikiran terbuka, kritis dan responsif dalam menjabarkan visi STAIR Probolinggo yakni “Menjadi perguruan tinggi yang berkualitas dalam mewujudkan keseimbangan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual”.sehingga diharapkan mampu menghasilkan suatu pemikiran dan sikap serta perilaku bahwa Beriman, Bertaqwa , Berilmu dan Beramal Sholeh adalah suatu prinsip yang harus dipegang teguh guna mewujudkan kesejahteraan umum dan keadilan social bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Di samping itu STAIR Probolinggo bertujuan untuk membantu mengatasi masalah para lulusan Sekolah Menengah Atas/SMA sederajat dalam memilih perguruan tinggi yang memenuhi harapan mereka sehingga memiliki jiwa kedisiplinan dan kemandirian serta profesionalisme ilmu pengetahuan untuk mengabdikan diri di masyarakat sebagai perwujudan Khalifatullah Fil Ardl di Bumi Indonesia. Secara khusus STAIR Probolinggo memiliki tujuan : 1) Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan agama Islam dan teknologi serta seni yang bernapaskan Islam; 2) Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan agama Islam dan/atau teknologi serta seni yang bernapaskan Islam, dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional; 3) Melaksanakan operasionalisasi struktur manajemen dan administrasi serta keuangan Perguruan Tinggi bagi segenap Civitas Akademika, bertumpu pada semangat disiplin, mandiri, transparan dan profesional; 4) Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sebagai bentuk dan perwujudan nyata komitmen ke-Islam-an dan peran aktif ke-Indonesia-an Perguruan Tinggi. bagi segenap Civitas Akademika turut serta dalam pembangunan manusia seutuhnya yang bersumber kepada Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ dan Qiyas, Pancasila serta Undang – Undang Dasar 1945. 3. Kualifikasi Lulusan : Prospektif dunia pendidikan khususnya pendidikan Agama Islam di Probolinggo sangat besar, Hal ini didasarkan pada analisa sebagai berikut : a. Mayoritas penduduk Kota Probolinggo menganut Agama Islam Ala Ahli Sunnah Wal Jamaah; b. Agar pengelolaan pendidikan pada Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT terus berkesinambungan mengingat jenjang pendidikan yang dimiliki oleh Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT adalah sampai tingkat Sekolah Menengah Atas/SMA dan yang sederajat; c. Besarnya jumlah lulusan dari Madrasah Aliyah Wahid Hasyim dan SMA Sunan Giri pada Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT yang berminat melanjutkan ke Perguruan Tinggi yakni STAIR Probolinggo; d. Tidak menutup kemungkinan bagi para lulusan Sekolah Menengah Atas/SMA dan yang sederajat di Probolinggo dan sekitarnya yang berminat melanjutkan ke Perguruan Tinggi/STAIR Probolinggo mengingat letaknya yang mudah dijangkau karena berada tepat di pinggir jalan Nasional Jurusan Surabaya - Jember; e. Alumni Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT merupakan modal besar dan aset berharga untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi yakni STAIR Probolinggo yang belum mendapatkan Ijin Operasional Pendirian; f. Tidak adanya Sekolah Tinggi Agama Islam yang terletak dan berpusat dipinggiran Kota Probolinggo kecuali STAIR Probolinggo sehingga dapat menghindari persaingan; g. Besarnya jumlah lulusan Sekolah Menengah Atas / SMA dan yang sederajat baik dari internal maupun eksternal Yayasan Pesantren Roudlotut Tholibin/YASSARO Probolinggo dan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT yang tidak mampu melanjutkan ke Perguruan Tinggi maka ditampung dan dibina oleh STAIR Probolinggo dengan program pendidikan biaya murah dan terjangkau serta menyediakan program Beasiswa bagi mereka yang tidak mampu dan berprestasi. 4. Proyeksi Calon Mahasiswa a. Dasar Pemikiran Dengan adanya arus informasi dan globalisasi, masyarakat Situbondo dan sekitarnya, terutama para generasi muda yakni para santri (penuntut ilmu agama) Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin semakin sadar akan pentingnya pendidikan tinggi karena tuntutan profesionalisme kerja yang ditekankan di berbagai pasar kerja. Kenyataan ini merupakan tantangan yang perlu disikapi serius karena profesionalitas itu sulit didapat tanpa melalui proses pendidikan di Perguruan Tinggi. Sementara Perguruan Tinggi yang ada di Probolinggo masih terbatas dan belum memenuhi kebutuhan masyarakat Probolinggo dan sekitarnya secara utuh khususnya dalam menjawab cita – cita mulia para santri Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin. Maka dari itu STAIR Probolinggo didirikan untuk memberikan kesempatan yang luas terhadap masyarakat Probolinggo dan sekitarnya terutama para santri Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin dalam memperoleh pendidikan tinggi dan sekaligus memenuhi kebutuhannya secara utuh. b. Standar Nilai dan Sistem Seleksi STAIR Probolinggo melakukan penyaringan sejak dari awal menentukan standar minimal nilai hasil ujian masuk di STAIR Probolinggo. Penentuan standar minimal tersebut dimaksudkan untuk menfilter para calon mahasiswa/i STAIR Probolinggo, sehingga dapat memudahkan proses belajar mengajarnya dan bahkan kualitas lulusan STAIR Probolinggo diharapkan dapat diterima dan mampu memenuhi kebutuhan kerja pasar. Adapun setiap penerimaan mahasiswa baru, STAIR Probolinggo selalu melakukan seleksi yang bertujuan memilih dan menguji kemampuan calon mahasiswa baru. Adapaun teknis seleksi yang dilakukan adalah melalui ujian tulis, wawancara dan psikotes. Setelah calon mahasiswa mengikuti seleksi ini, STAIR Probolinggo kemudian mengumumkan para peserta seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru yang lulus tes dan hal – hal terkait yang menjadi hak, tugas dan tanggung jawabnya setelah dinyatakan lulus tes. c. Proyeksi Peminat Lima Tahun Ke Depan Peminat STAIR Probolinggo selama kurun waktu lima tahun ke depan sejak tahun 2012 s/d 2016 diprediksi akan selalu meningkat, hal ini didasarkan karena pendirian STAIR Probolinggo sesuai dengan aspirasi masyarakat di Probolinggo dan para santri Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin/PPRT, selain itu kuantitas santri lulusan Madrasah Aliyah Wahid Hasyim dan SMA Sunan Giri yang ada di Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin yang ingin menempuh pendidikan tinggi relatif banyak. 1) Tahun Pertama 2012 Proyeksi peminat sebagai berikut : a) Jurusan Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam/MPI diproyeksikan berjumlah 38 mahasiswa; b) Jurusan Tarbiyah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI diproyeksikan berjumlah 36 mahasiswa; 2) Tahun ke dua 2013 Proyeksi peminat sebagai berikut : a) Jurusan Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam/MPI diproyeksikan berjumlah 42 mahasiswa; b) Jurusan Syari'ah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI diproyeksikan berjumlah 38 mahasiswa; 3) Tahun ke tiga 2014 Proyeksi peminat sebagai berikut : a) Jurusan Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam/MPI diproyeksikan berjumlah 52 mahasiswa; b) Jurusan Syari'ah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI diproyeksikan berjumlah 46 mahasiswa; 4) Tahun ke empat 2015 Proyeksi peminat sebagai berikut : a) Jurusan Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam/MPI diproyeksikan berjumlah 58 mahasiswa; b) Jurusan Syari'ah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI diproyeksikan berjumlah 54 mahasiswa; 5) Tahun ke lima 2016 Proyeksi peminat sebagai berikut : a) Jurusan Tarbiyah Prodi Manajemen Pendidikan Islam/MPI diproyeksikan berjumlah 69 mahasiswa; b) Jurusan Syari'ah Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI diproyeksikan berjumlah 62 mahasiswa; 5. Analisa Kebutuhan dan Pendayagunaan Lulusan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam/MPI dan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah/PGMI jenjang S.1 STAIR Probolinggo: 1) Di tengah keberpihakan Negara pada dunia pendidikan, salah satu diantaranya ditandai dengan banyaknya berdiri Sekolah / Madrasah baru khususnya di Probolinggo memberi angin segar bagi kalangan profesi perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru maka profesi perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru menjadi pilihan terbaik untuk mengabdikan diri pada Agama, Negara dan Bangsa sehingga formasi profesi perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru sangat dibutuhkan untuk masa kini dan mendatang; 2) Profesionalisme pendidikan menuntut para Tenaga Pendidik / Guru memenuhi standart kualifikasi dan kompetensi pendidikan sehingga memberi ruang terbuka bagi segenap calon tenaga profesi perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru untuk memenuhi standart standart kualifikasi dan kompetensi sesuai amanat Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 3) Spesifikasi profesi bagi para Tenaga Perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru di Probolinggo masih sangat minim jika dibandingkan dengan jumlah kebutuhan atau kuota dan rasio mengingat masih banyak ditemukan Tenaga Perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru yang tidak memenuhi kriteria dan spesifikasi keilmuan para Tenaga Perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru memberi angin segar dan menjadikan harapan baru bagi para calon Tenaga Perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru untuk menekuni profesi bidang Pendidikan sebagai profesi alternatif pilihan yang menarik; 4) Masyarakat Probolinggo merupakan masyarakat religius dan taat sehingga profesi Tenaga Perangkat Sekolah / Madrasah dan Tenaga Pendidik / Guru sangat dibutuhkan kehadiran dan perannya di tengah-tengah masyarakat muslim dalam upaya menjalankan dan meningkatkan syiar Islam dalam dunia pendidikan;

Senin, 13 Februari 2012

curiculum vitae

CURICULUM VITAE
Nama : Muhammad Sahri, S.Kom.I
TTL : Probolinggo, 18 Februari 1984
Alamat :Dusun Timur I RT 13/03 Desa Muneng Kidul Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo Jawa Timur.
No HP : 085730092008
Email : probolinggos@yahoo.co.id
RIWAYAT PENDIDIKAN
1. TK Indriya Karya, Pohs Ngisor, Wonomerto, Kab Probolinggo Lulus Tahun 1990
2. SDN Pohs Ngisor, Wonomerto Kab Probolinggo Lulus Tahun 1996
3. SLTP Islam Diponegoro Kota Probolinggo Lulus Tahun1999
4. SMU Sunan Giri Kota Probolinggo Lulus Tahun 2002
5. P.P. Roudlotut TholibinKota Probolinggo Lulus Tahun 2004
6. Jurusan Dakwah Dan Komunikasi IAIN Surakarta Lulus Tahun 2011
RIWAYAT ORGANISASI
1. Ketua Bidang Muhadhoroh Pondok Pesantren Roudlotut
Tholibin Kademangan Kota Probolinggo Tahun 2001-2002
2. Tenaga pengajar Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Roudlotut
Tholibin Kademangan Kota Probolinggo Tahun 2004-2007
3. Staf Tata Usaha SMU Sunan Giri Kademangan Kota ProbolinggoTahun 2005-2007
4. Ketua Pengurus Pondok Pesantren Al-Fattah Kartasura Tahun 2008-2009
5. Ketua Bidang Jaringan dan Advokasi PMII Komisariat RM Sa'id
Cabang Sukoharjo Tahun 2008-2009
6. Tenaga pengajar Madrasah Diniyah Pondok Pesantren Al-Fattah
Kartasura Tahun 2008-Skrg
7. Ketua Bidang Penelitian Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM)
Dinamika IAIN Surakarta Tahun 2009-2010
8. Reporter Harian Umum Solopos Tahun 2010
9. Anggota Bidang Eksternal PMII Cabang Sukoharjo Tahun 2011-skrg

Jumat, 14 Januari 2011

Jurnalis VS Etika bahasa

Jurnali VS Etika bahasa
Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki manusia,bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal,artinya,dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu sendiri yang tidak menghasilkan masalah diluar bahasa dengan menggunakan teoriyang ada dalam disiplin linguistic saja. Sebaliknya,secara eksternal dilakukan terhadap factor di luar bahasa yang berkaitan denganpemakaian bahasa itu oleh penuturnya dalam kelompok social kemasyarakatan.Selain itu Gorys Keraf dalam bukunya Tata Bahasa menyatakan bahwa,bahasa adalah hal yang paling penting dalam komunikasi
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistic,da bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang erat. Secara mudah sosiolinguistik dapat dikatakan bidang ilmu antar disiplin yang memplajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan ahasa itu dalam masyarakat (Sosiolinguistik,2004).
Masyarakat Asia khususnya Indonesia dinilai berbudaya luhur dengan tingkat kesopanan yang tinggi. Mungkin karena murah senyum ,akrab dan mudah diajak bercanda. Lalu,apakah kebudayaan berbahasa identik dengan sikap masyarakat yang demikian. Dengan cara berbahasa yang ramah dan santun serta memberikan bumbu kebudayaan didalamnya dan diramu seindah mungkin agar menarik terhadap masyrakat.

٢٤. أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,QS,Ibrahim,24.
٢٥. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. QS,Ibrahim,25
Dalam kedua ayat tersebut bahasa atau perkataan yang baik diibaratkan sebuah pohon yangbaik,akarnya kuat,sehingga mampu menyimpan air dan menahan tanah dari erosi,cabang-cabangnya menjulang tinggikelangit,sehingg menjadi tempat berteduh dan memberikan kesejukan dan kenyamanan kepada orangyang berada disekitarnya,selain itu setiap musim mengeluarkan buahnya untuk dikonsumsi oleh manusia.
Belajar dari ibarat itu,seorang muslim seharusnya memperhatikan kualitas pemakaian bahasanya,baik isi maupun cara penyampaiannya,kepada siapa dia berbicara,bahkan kepada orang yang belum dikenalpun harus menjaga ucapannya.,dengan memperhatikan pola-pola komunikasi, yakni :
-melalui komunikasi persona (penampilan, citra diri dsb)
- komunikasi sosial (derajat partisipasi dalam hubungan antar persona)
- lingkungan sosial komunikasi.
Sopan santun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara,khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghargaan atau menciptakan kenikmatan melalui kata-kata,atau mempergunakan kata-kata yang manis sesuai dengan basa-basi dalam pergaulan masyarakat beradab. Rasa hormat dalam alam gaya bahasa dimanifestasikan melali kejelasan dan kesingkatan.
Menyampaikan sesatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca atau pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau dikatakan. Di samping itu,pembaca atau pendengar tidak perlu membuang waktu,kalau itu bisa dituangkan dalam beberapa rangkaian kata. Dengan demikian kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah Yaitu
a.Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat
b.Kejelasan dalam korespondensi dengan fakta yang diungkapkan melalui kata-kata atau kalimat.
c.Kejelasan dalam pengurutan kata secara logis.
d.Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan
Kesingkatan sering jauh lebih efektif daripada jalinan yang berliku-liku. Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efisien,meniasdakan penggunaan dua kata atau lebih yang mengandung sinonim secara longgar,menghindari tautologi; atau mengadakan repetisi yang tidak perlu.Di antara kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan santun syarat kejelasan masih jauh lebih penting daripada syarat kesingkatan.
Dalam kegiatan komunikasi ,kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam bahasa.yang paling penting dalam rangkaian kata-kata tersebut adalah pengertian yang tersirat dalam kata yang digunakan tersebut. Setiap masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi selalu berusaha agar orang ain dapat memahaminya dan disamping itu ia harus memahami orang lain. Dengan cara inilah terjalin komunikasi dua arah yang baik dan harmonis.

1. Prinsip Kesopanan
Dalam berkomunikasi tidak jarang dijumpai bahwa satu ujaran tidak hanya mengandung makna tertentu,melainkan juga memiliki daya dorong yang seolah memaksa orang lain melakukan tindakan tertentu sebagaimana diinginkan oleh pengujar (speaker). Perbedaan antara makna dan daya dorong dimaksud dapat dilihat pada ujaran berikut:
1.Suwarmo : Tarko,Ketik konsep surat ini. Cepat ya!
Sutarko : Sejak pagi belum sarapan (makan) pak.
2. Suwarmo : Tarko,Ketik konsep surat ini. Cepat ya!
Sutarko : Tidak bisa. (Saya tidak mau) pak.
Dua pasang pertukaran percakapan diatas memperlihatkan sekurang-kurangnya dua gejala. Pertama, percakapan sehari-hari orang cenderung bereaksi terhadap pertanyaan, permintaan atau ujaran dan anjuran seseorang secara tidak langsung.
Jawaban versi pertama sepntas tidak memnuhi atura (Hubungan),dapat dikatakan tidak relevan. Sedangkan jawaban versi kedua lebih langsung. Versi ini lebih memenuhi syarat hubungan (Maxim of relevance) sebagaimana Levinson(1988:101-102). Perlu diketahuibahwa menurut Grice agar terjadi percakapan antara dua belah pihak secara efisien dan efektf,maka dierlukan prinsip kerja sama di antara dua belh pihak. Dasar kerja sama ini dapat terlaksana bila memenuhi emat aturan percakapanDasar kerja sama ini dapat terlaksana bila memenuhi empat aturan percakapan,keempat peraturan itu adalah kualitas,kuantitas,huungan dan cara. Aturan kualitas berhubungan dengan keenaran dari apa yang diekperesikan, aturan kuantitas denganinformasi yang diberikan tidak kurang dan tidak lebih;hubungan dikaitkan dengan relevansi a tara ujaran yang dikemukakan oleh kedua belah pihak. Dan cara berkenaan dengan kejelasan pengungkapan.
Fenomena dalam versi pertama diatas alah masalah kesopan-santunan.prinsip inilah yang menjadi fokus pembahasan makalah ini. Percakapan terjadi antara dua orang yang tingkat atau status sosial kemasyarakatannya berbeda. Yang satu atasan yang lainnya bawahan.
Dalam pengalaman berkomunikasi sering dijumpai orang berbohong demi mencegah pihak lawan bicara tersinggung atau berakibat yang tidak diharapkan,selain itu prinsip kesopanan kadangkala dijumpai dalam fenomena ironi atau ejekan.
Berbicara masalah prinsip kesopanan Lech (1989.84)”Mengklasifikasikannya dalam dua kategori,absolute dan relatif. Prinsip “Kesopanan absolute”mengacu pada norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat bahasayang ikut mempengaruhi kesopan-santunan berbahasa.Sebaliknya”Kesopanan relative”bervariasi mengikuti dimensi yang standard dan hanya berlaku secara khusus diantara masyarakat bahasa tertentu.Dalam halini harus memperhatikan dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks. Konteks memasukkan banyak hal seperti konteks situasi, lebih jauh lagi konteks yang berhubungan dengam konteks institusi dan budaya. Misalnya konteks politik media, ekonomi media, dan budaya media berpengaruh terhadap berita yang dihasilkan. Ketiga dimensi tersebut digambarkan oleh Fairclogh seperti berikut.
Sebelum dimensi tersebut dianalisis , kita perlu memahami praktik diskursif dari komunitas pemakai bahasa yang disebut sebagai order of discourse. Order of discourse secara sederhana seperti layaknya pakaian: pakaian di kantor berbeda dengan pakaian tidur dan pakaian renang. Pemakaian bahasa menyesuaikan dengan praktik diskursif di tempat mana ia berdada, ia tidak bebas memakai bahasa. Ketika menganalisis teks berita perlu melihat dulu oder of discourse, apakah bentuknya hardnews, features, artikel, atau editorial. Ini akan membantu peneliti untuk mekaknai teks, produksi teks, dan konteks sosisal dari teks yang dihasilkan.
2.KONSEP SOPAN SANTUN BERBAHASA
Di setiap pom bensin serta ruangan dan angkutan ber-AC tertulis”No Smoking”yang versi bahasa Indonesia mungkin baru dipasang artinya,kira-kira “jangan merokok”.Dalam bahasa penerbangan para pramugari akan menyampaikan:”jangan merokok dan jangan melepaskan sabuk pengaman sebelum tanda dilarang merokok dan kenakan sabuk pengaman”.
Dalam beberapa bahasa,perbedaan tingkat sosial antar pembicara dengan pendengar diwujudkan dalam seleksi kata.Dalam bahasa jawa umpamanya,memakai kata nedo dan dahar (=makan);memilih kata omah dan griyo (=rumah);menyebut si alamat kowe,sampeyan atau pandjenengan,menunjukkan perbedaan sikap dan kedudukan sosiial pembicara pendengar dan orang yang bersangkutan.secara tradisional perbedaan bahasa(variasi bahasa)seperti itu disebut”tingkatan bahasa”dalam bahasa jawa ngoko,madyo,kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat disebut kesopanan berbahasa.
Uraian diatas membantu mengungkapkan bahwa sopan santun berbahasa dapat dilakukan oleh seeorang karena terdorong sikap hormat kepada orang yang disapa seperti lazim dijumpai dalam hampir semua bahasa manusia.Dalam kasus-kasus bahasa jawa ,sopan santun berbahasa didorong tuntutan penyesuaian bahasa sebagai akibat dari struktur masyarakat priyayi,pedesaan,terpelajar dan sebagainya.
3.Kemampuan berbahasa.
Menurut Koentjaraningrat (1990)Adanya hubungan tindak bahasa dengan sikap mental para penuturnya,buruknya kemampuan berbahasa Indonesia sebagian besar orang Indonesia termasuk kaum intelektualnya,adalah adanya sifat-sifat negative yang melekat pada mental sebagian besar orang Indonesia yaitu:
a.Sifat suka meremehkan yang tercermin dalam perilaku berbahasa “pokoknyamengerti”ini menyebabkan bahasa yang digunakan menjadi asal saja, tanpa mempedulikan bahasa yang digunakan itu benar atau salah. Tentu saja keinginan untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar,sesuai dengan kaidah menjadi tidak sama sekali,soal benar atau salah adalah soal guru bahasa atau penyuluh bahasa.bahkan itu terjadi di berbagai lembaga pendidikan yang ingin mengajarkan bahasa asing aktif.
b.Sikap mental merabas,tercermin dalam perilaku berbahasa dengan adanya keinginan untuk menggunakan bahasa yang baik tanpa keinginan belajar.
c.Sikap tuna harga diri,berarti menghargai bahasadiri orang lain,tapi tidak menghargai milik sendiri. Sikap ini tercermin dalam prilaku berbahasa dimana karena ingin selalu menghargai orang asing,maka selalu menggunakan bahasa asing dan menomorduakan bahasa sendiri. Lihat saja buktinya,demi menghargai orang asing,keset-keset yang berada di depan kantor pemerintah pun bertuliskan WELCOME bukan “Selamat Datang”;pintu-pintu diatas bertuliskan IN atau EXIT bukan”masuk atau keluar”;dan di pintu yang daunnya dapat dibuka dua arah dituliskan petunjuk PUSH dan PULL,bukannya “dorong dan tarik”,meskipun di tempat loket pembayaran STAIN Surakarta tidak menggunakan bahasa inggris, namun bertuliskan Dorong dan Dorong,bukan tarik dan dorong.
Lebih dari itu Orang nomor satu di Indonesia Presiden SBY,menjadi sorotan publik dan Media, saat memberikan sambutan dengan menggunakan bahasa asing dengan berlebihan pada pembukaan salah satu bank di Indonesia (BEI),hal tersebut diakui oleh wakil ketua DPR.RI, Pramono Anong,setelah membaca teks sambutan Presiden,bahwa SBY terlalu berlebihan dalam menggunakan bahasa asing dalam sambutannya,
d.Sikap menjauhi disiplin tercermin dalam prilaku berbahasa yang malas atau tidak mau mengikuti aturan atau kaidah bahasa,seperti “Dia punya mau tidak begini”seharusnya berbunyi “Kemauannya tidak demikian.
d.Sikap tidak mau bertanggung jawab tercermin dalam prilaku berbahasa yang tidak mau memperhatikan penalaran bahasa yang benar. Seperti “Uang iuran anggota terpaksa dinaikkan karena sudah lama tidak naik”sering terdengar.kalau mau bernalar dan bertanggung jawab alasamkenaikan itu bukan karena sudah lama tidak naik,tapi karena sudah tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan.jadi,bertanggung jawab dalam bahasa artionya dapat mempertanggungjawabkan kebenaran isi kalimat itu.
e.yang terakhir sikap latah atau ikut-ikutan tercermin dalam bahasa yang mengikuti bahasa orang lain(bisanya ucapan pejabatatau pimpinan)yang sebenarnya tidak benar secara gramatikal.karena ada semboyan”memasyarakatkan oahraga dan mengolahragakan masyarakat”;maka diikuti ucapan itu. Padahal secara semantic dan gramatikal ungkapan”memasyarakatkan olahraga”memang benar,yakni menjadikan olahraga sebagai kebiasaan masyarakat; tapi ungkapan “mengolahragakan masyarakat”salah,sebab ungkapan itu berarti’masyarakat jadi olahraga’.kalau yang dimaksud adalah menjadikan masyarakatitu berolahraga,maka bentuknya haruslah”memperolahragakan masyarakat”. Hal itu serupa dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang menggunakan kata sapaan pada orang tunngal dengan kata-kata “antum” hal itu dikatakan karena ungkapan rasa sopan yang biasa dilakukan masyarakatr di timur tengah,padahal aturan yang ada di beberapa kaidah bahasa arab kata antum tersebut hanya untuk jamak (kalian)dalam versi bahasa Indonesia .sedangkan yang mengikuti aturan kaidah seperti “Nahnu/na”yang digunakan sebagai kata ganti orang pertama tunggal, diabaikan,meskpun kata itu dicontohkan dalam ayat al-qur’an,sedangkan antum tidak.
4.ETIKA BERBAHASA.
Etika berbahasa berkaitan dengan kode bahasa,norma-norma social dan system budaya yang berlaku dalam satu masyarakt oleh karena itu,etika berbahasa ini akan mengatur beberapa hal sebagai berikut:
a.Apa yang harus diatakan pada waktu dan keadaan terentu pada partisipan tertentu berkenaan dengan status social dan budaya dalam masyarakat tersebut.
b. Ragam bahasa apa yang paling wajar digunakan dalam situasi tertentu.
c. kapan dan bagaimana menggunakan giliran berbicara dan menyela pembicaraan.
d. Kapan kita harus diam.
e. Bagaimana kualitas suara dan sikap fisik ketika berbicara.
Seseorang baru bisa disebut pandai berbahasa kalau sudah menguasai tatacara atau etika berbahasa.Aturan dalam berbahasa yang disebutkan iatas tidaklah merupakan hal yang terpisah,melainkan merupakan hal yang ,enyatu dalam tindak laku berbahasa. Apa yang disebutkan pada butir(a)dan(b) merupakan penjelasan aturan sosialb berbahas ,sebagai sesuatu yang menjadi inti pesoalan sosiolinguistik:”Siapa berbicara,dengan bahasa apa,kepada siapa,tentang apa,kapan,dimana dan dengan tujuan apa”. Sebagai contoh umpamanya,kit hendak menyapa seseorang maka kita harus tahu siapa orang itu,dimana,kapan,dan dalam situasi bagaimana,baru memilih kata sapaan yang tersedia. Amaenurut Kridalaksana (1984:14)dalam bahasa Indonesia terdapatsembilan jenis katauntuk menyapa seseorang,yaitu:
1.Kata ganti orang(engkau dan kamu)
2.nama diri,seperti Feri dan Fera.
3.Istilah perkerabatan,seperti bapak,ibu,kakak dan adik.
4.Gelar dan pangkat,sepertidokter,profsor,letnan, dan kolonel.
5.Bentuk nomina pelaku(pe+verba),seperti penonton,pendengar,dan peminat.
6.Bentuk nomina+ku,seperti Tuhanku,Bangsaku,dan anakku
7.Kata-kata diktis seperti sini,situ, atau, disini.
8.Bentuk nomina lain,seperti awak,bung,dan tuan
9.Bentuk zero,tanpa kata-kata.
Butir (c)dan(d) yang juga merupakan aturan dalam etika berbahasa perlu pula dipahami agar kita bisa disebut sebagai orang yang berbahasa. Kita tidak bias seenaknya menyela pembicaraan seseorang,untuk menyela harus memperhatikan situasi dan kondisi,tentunya juga dengan memberikan isyarat terlebih dahulu.
Maka sangat tepat sabda Rosulullah SAW
: عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
Berdasarkan hadist diatas maka seorang pembicara harus mempertimbangkan kata-kata yang ingin disampaikan kepada khalayak.
Butir (e) dalam aturan bahasa menyangkut masalah kualitas suara dan gerak gerik anggota tubuh ketika berbicara. Kualitas suara berkenaan dengan volume dan nada suara.
5.Tindak Tutur
Bentuk ekspresi bahasa yang dapat digunakan untuk menunjukkan perbedaan perspektif adalah elemen-elemen interpersonal seperti tindak tutur (Speech acts). Pandangan yang melandasi tindak tutur, jika orang mengatakan sesuatu, orang akan melakukan sesuatu untuk tuturan itu. Hal itu merupakan aspek dalam fungsi interpersonal bahasa. Contoh (a) dan (b) berikut dapat menjelaskan tindak tutur yang dapat menimbulkan perspektif berbeda.
(a) Ada unjuk rasa
(b) Kongres Umat Islam merekomendasikan presiden dan wapres mendatang harus pria, beriman, dan bertaqwa (Jawa Pos, 7/11/98).
Pada tuturan (a) dituturkan oleh seorang polisi, tidak sekedar menginformasikan sesuatu,tetapi juga berfungsi sebagai perintah ke lokasi untuk pengamanan. Hal itu berbeda maknanya jika dituturkan oleh mahasiswa di kampus, ujaran itu bukan informasi tetapi ajakan. Demikian pula dalam (b), bagi mereka yang mengikuti perkembangan pasca Pemilu 1999, maka dengan cepat dapat menangkap bahwa ilokusi yang tersirat yang menghambat megawati Soekarno Putri maju menjadi presiden.
6.Tabu
Tabu berasal dari kata taboo yang dipungut dari bahasa Tonga ,salah satu bahas dari rumpun bahasa Polinesia. Dimasyarakat Tonga kata Taboo merujuk pada tindakan yang dilarang atau harus dihindari. Bila tindakan saja dilarang,maka kata-kata yang merupakan symbol itupun dilarang.Dengan demikian kata tabu dapat didefinisikan sebagai kata yang tidak boleh digunakan,atau tiadak dipakai ditengah masyarakat.
Keterkaitan antara tabu dengan fenomena sopan santun ini adalah dalam dimensi prilaku social anggota masyarakat dalam memanipulasi kata dan ujaran untuk mengidentifikasikan kedudukan dirinya ditengah masyarakat,serta untuk mempermaklumkan nilai budaya apa yang dianutnya.
Eufemismus
Kata Eufemisme atau Eufemismus diturunkan dari kata yunani Euphemizen yang berarti”mempergunakan kata-kata dengan arti yang baik atau tujuan yang baik:.Sebagai gaya bahasa,eufemisme adalah semacam acuanberupa ungkapan-ungkapan yang tidak menyinggung perasaan orang,atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan acuan yangmungkin dirasakan menghhina,menyinggung perasaan ataumensugestikansesuatu yang tidak menyenangkan.
Ayahnya sudah tidak ada di tengah-tengah mereka(=Mati)
Pikran sehatnya semakin merosot saja akhir-akhir ini (=Gila)
Anak saudara memeng tidak terlalu cepat mengikuti pelajaran seperti anak-anak lainnya(=Bodoh)
7. Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yng singkat : Bunga Bangsa, buaya darat,buah hati, cindera mata, dan sebagainya.Metafora tidak selalu berupa predikat,tetapi dapat juga menduduki fungsi subyek,obyek dan sebagainya. Dengan demikian metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata.
Menurut Aristoteles seperti yang dikutib Abdul Wahab, metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang menyatakan uangkapan kebahasaan yang menyatakan hal-hal yang bersifat umum untuk hal-hal yang bersifat khusus dan sebaliknya. Metafora digunakan sebagai ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak bisa dijangkau secara langsung dari lambang karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Artinya, metafora merupakan pemahaman pengalaman sejenis hal yang dimaksudkan untuk perihal lain. Metafora digunakan jurnalis untuk membangun perspektif dalam surat kabar. Berikut adalah contoh metafora yang dapat menimbulkan perspektif berbeda
(a) Gelombang mahasiswa mendatangi Gedung DPR Senayan mendesak agar anggota dewan ikut mengusut 4 mahaiswa yang ditembak di Universita Trisakti
(b) Ibarat pemain sepakbola, saat ini penyelesaian utang PT Garuda Indonesia sudah memasuki injury time, tinggal menunggu peluit panjang.
Metaforik gelombang untuk menggambarkan laut yang bergulung-gulung dan menakutkan (a) metaforik injury time menggambarkan sedikitnya waktu PT Garuda Indonesia untuk melunasi utang(b).
(c) Debitor Nakal Perlu Dicekal
(d) Amin, Gus Dur, Hamzah, dan Nur Mahmudi Bertemu Mereka Bahas “Buah Simalakama” Mega
Kata nakal dalam (c) memiliki adanya tiga kesamaan sifat nakal yaitu (1) masih kanak-kanak, sehingga kurang mampu membedakan mana yang benar dan mana yan salah, (2) sudah tahu aturan yang sudah disepakati tetapi tetap saja melanggar, (3) sudah dinasihati tetapi tidak memperbaiki. Demikain dengan “buah simalakama”(d), jika Megawati terpilih menjadi presiden keadaan belum tentu bertambah baik. Sebaliknya jika Megawati tidak terpilih akan berpotensi buruk. Bagi partai berbasis massa Islam perempuan memang tidak diijinkan menjadi pemimpin.
Bahasa merupkan sarana Komunikasi utama yang berlaku,sehingga agar terhindar dari pra-sangka yang tidak sesuai maka harus ada kontrol berbahasa karena bahasa dengan sikap mental para penuturnya terdapat suatu hubungan yang tidak terpisahkan,serta nilai kesopanan dalam berbahasa di esuaikan dengan situasi dan kondisi dimana Komunikan dan komunikator berada.
Sopan sntun adalah memberi penghargan atau menghormati orang yang diajak bicara,khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghargaan atau menciptakan kenikmatan melalui kata-kata,atau mempergunakan kata-kata yang manis sesuai dengan basa-basi dalam pergaulan masyarakat beradab
Setiap masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi selalu berusaha agar orang lain dapat memahaminya dan disamping itu ia harus memahami orang lain. Dengan cara inilah terjalin komunikasi dua arah yang baik dan harmonis.

b.SARAN
سلامةالانسان بحفظ السان(الحديث)
Keselamatan manusia tergantung pada bagaimana mampu menjaga tutur kata.
Semoga makalah ini dapat Memberikan sumbangsih bagi ilmu komunikasi khususnya Mahasiswa Dakwah & Komunikasi STAIN Surakarta,dalam menjalankan aktifitas yang selalu berhubungan dan berkomunikasi dengan masyarakat.

Selasa, 11 Januari 2011

Etika bahasa Jurnalis

 
ETIKA BAHASA JURNALIS
            Sebagai alat komunikasi dan alat interaksi yang hanya dimiliki manusia,bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal,artinya,dilakukan terhadap struktur internal bahasa itu sendiri yang tidak menghasilkan masalah diluar bahasa dengan menggunakan teoriyang ada dalam disiplin linguistic saja. Sebaliknya,secara eksternal dilakukan terhadap factor di luar bahasa yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu oleh penuturnya dalam kelompok social kemasyarakatan.
Gorys Keraf dalam bukunya Tata bahasa mengatakan, bahwa Bahasa adalah hal yang penting dalam Komunikasi. Sebagai Komunikator seorang Jurnalis harus mampu menguasai bahasa ,baik bahasa yang dia pakai maupun bahasa khalayak yang akan menerima pesan yang akan disampaikan.
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistic,da bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan yang erat. Secara mudah sosiolinguistik dapat dikatakan bidang ilmu antar disiplin yang memplajari bahasa dalam kaitannya dengan penggunaan ahasa itu dalam masyarakat (Sosiolinguistik,2004).
Masyarakat Asia khususnya Indonesia dinilai berbudaya luhur dengan tingkat kesopanan yang tinggi. Mungkin karena murah senyum ,akrab dan mudah diajak bercanda. Lalu,apakah kebudayaan berbahasa identik dengan sikap masyarakat yang demikian. Dengan cara berbahasa yang ramah dan santun serta memberikan bumbu kebudayaan didalamnya dan diramu seindah mungkin agar menarik terhadap masyrakat.

 ٢٤. أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللّهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاء
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,QS,Ibrahim,24.
٢٥. تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللّهُ الأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. QS,Ibrahim,25
Dalam kedua ayat tersebut bahasa atau perkataan yang baik diibaratkan sebuah pohon yangbaik,akarnya kuat,sehingga mampu menyimpan air dan menahan tanah dari erosi,cabang-cabangnya menjulang tinggikelangit,sehingg menjadi tempat berteduh dan memberikan kesejukan  dan kenyamanan kepada orangyang berada disekitarnya,selain itu setiap musim mengeluarkan  buahnya untuk dikonsumsi oleh manusia.
Belajar dari ibarat itu,seorang muslim seharusnya memperhatikan kualitas pemakaian bahasanya,baik isi maupun cara penyampaiannya,kepada siapa dia berbicara,bahkan kepada orang yang belum dikenalpun harus menjaga ucapannya.,dengan memperhatikan pola-pola komunikasi, yakni :
-melalui komunikasi persona (penampilan, citra diri dsb)
- komunikasi sosial (derajat partisipasi dalam hubungan antar persona)
- lingkungan sosial komunikasi.
Sopan sntun adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang diajak bicara,khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghargaan atau menciptakan kenikmatan melalui kata-kata,atau mempergunakan kata-kata yang manis sesuai dengan basa-basi dalam pergaulan masyarakat beradab. Rasa hormat dalam  alam gaya bahasa dimanifestasikan melali kejelasan dan kesingkatan.
Menyampaikan sesatu secara jelas berarti tidak membuat pembaca atau pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau dikatakan. Di samping itu,pembaca atau pendengar tidak perlu membuang waktu,kalau itu bisa dituangkan dalam beberapa rangkaian kata. Dengan demikian kejelasan akan diukur dalam beberapa butir kaidah Yaitu
a.Kejelasan dalam struktur gramatikal kata dan kalimat
b.Kejelasan dalam korspondensi dengan fakta yang diungkapkan  melalui kata-kata atau kalimat.
c.Kejelasan dalam pengurutan kata secara logis.
d.Kejelasan dalam penggunaan kiasan dan perbandingan
Kesingkatan sering  jauh lebih efektif  daripada jalinan yang berliku-liku. Kesingkatan dapat dicapai melalui usaha untuk mempergunakan kata-kata secara efisien,meniasdakan penggunaan dua kata atau lebih yang mengandung sinonim secara longgar,menghindari tautologi; atau mengadakan repetisi yang tidak perlu.Di antara kejelasan dan kesingkatan sebagai ukuran sopan santun syarat kejelasan masih jauh lebih penting daripada syarat kesingkatan.[1]
Dalam kegiatan komunikasi ,kata-kata dijalin-satukan dalam suatu konstruksi yang lebih besar berdasarkan kaidah-kaidah sintaksis yang ada dalam bahasa.yang paling penting dalam rangkaian kata-kata tersebut adalah pengertian yang tersirat dalam kata yang digunakan tersebut. Setiap masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi selalu  berusaha agar orang ain dapat memahaminya dan disamping itu ia harus memahami orang lain. Dengan cara inilah terjalin komunikasi  dua arah yang baik dan harmonis.




1. Prinsip Kesopanan
Dalam berkomunikasi tidak jarang dijumpai bahwa satu ujaran tidak hanya mengandung makna tertentu,melainkan juga memiliki daya dorong yang seolah memaksa orang lain melakukan tindakan tertentu sebagaimana diinginkan oleh pengujar (speaker). Perbedaan antara makna dan daya dorong dimaksud dapat dilihat pada ujaran berikut:
1.Suwarmo : Tarko,Ketik konsep surat ini. Cepat ya!
Sutarko   : Sejak pagi belum sarapan (makan) pak.
2. Suwarmo : Tarko,Ketik konsep surat ini. Cepat ya!
Sutarko   : Tidak bisa. (Saya tidak mau) pak.
Dua pasang pertukaran percakapan diatas memperlihatkan sekurang-kurangnya dua gejala. Pertama, percakapan sehari-hari orang cenderung bereaksi terhadap pertanyaan, permintaan atau ujaran dan anjuran seseorang secara tidak langsung.
Jawaban versi pertama sepntas tidak memnuhi atura (Hubungan),dapat dikatakan tidak relevan. Sedangkan jawaban versi kedua lebih langsung. Versi ini lebih  memenuhi syarat hubungan (Maxim of relevance) sebagaimana Levinson(1988:101-102). Perlu diketahuibahwa menurut Grice agar terjadi percakapan antara dua belah pihak  secara efisien dan efektf,maka dierlukan  prinsip kerja sama di antara dua belh pihak. Dasar kerja sama ini dapat terlaksana bila memenuhi emat aturan percakapanDasar kerja sama ini dapat terlaksana bila memenuhi empat aturan percakapan,keempat peraturan itu adalah kualitas,kuantitas,huungan dan cara. Aturan kualitas berhubungan dengan keenaran dari apa yang diekperesikan, aturan kuantitas denganinformasi yang diberikan tidak kurang dan tidak lebih;hubungan dikaitkan dengan relevansi a tara ujaran yang dikemukakan  oleh kedua belah pihak. Dan cara berkenaan dengan kejelasan pengungkapan.[2]
Fenomena dalam versi pertama diatas alah masalah kesopan-santunan.prinsip inilah yang menjadi fokus pembahasan makalah ini. Percakapan terjadi antara dua orang yang tingkat atau status sosial kemasyarakatannya berbeda. Yang satu atasan yang lainnya bawahan.
Dalam pengalaman berkomunikasi sering dijumpai orang berbohong demi mencegah pihak lawan bicara tersinggung atau berakibat yang tidak diharapkan,selin itu prinsip kesopanan kadangkala dijumpai dalam fenomena ironi atau ejekan.
Berbicara masalah prinsip kesopanan  Lech (1989.84)”Mengklasifikasikannya dalam dua kategori,absolute dan relatif. Prinsip “Kesopanan absolute”mengacu pada norma-norma umum yang berlaku dalam masyarakat bahasayang ikut mempengaruhi kesopan-santunan berbahasa.Sebaliknya”Kesopanan relative”bervariasi mengikuti dimensi yang standard an hanya berlaku secara khusus diantara masyarakat bahasa tertentu.
Selain itu harus memperhatikan dimensi yang berhubungan dengan konteks di luar teks. Konteks memasukkan banyak hal seperti konteks situasi, lebih jauh lagi konteks yang berhubungan dengam konteks institusi dan budaya. Misalnya konteks politik media, ekonomi media, dan budaya media berpengaruh terhadap berita yang dihasilkan. Ketiga dimensi tersebut digambarkan oleh Fairclogh seperti berikut.
Sebelum dimensi tersebut dianalisis , kita perlu memahami praktik diskursif dari komunitas pemakai bahasa yang disebut sebagai order of discourse. Order of discourse secara sederhana  seperti layaknya pakaian: pakaian di kantor berbeda dengan pakaian tidur dan pakaian renang. Pemakaian bahasa menyesuaikan dengan praktik diskursif di tempat mana ia berdada, ia tidak bebas memakai bahasa. Ketika menganalisis teks berita perlu melihat dulu oder of discourse, apakah bentuknya hardnews, features, artikel, atau editorial. Ini akan membantu peneliti  untuk mekaknai teks, produksi teks, dan konteks sosisal dari teks yang dihasilkan.[3]
2.KONSEP SOPAN SANTUN BERBAHASA
Di setiap pom bensin serta ruangan dan angkutan ber-AC tertulis”No Smoking”yang versi bahasa Indonesia mungkin baru dipasang artinya,kira-kira “jangan merokok”.Dalam bahasa penerbangan para pramugari akan menyampaikan:”jangan merokok dan jangan melepaskan sabuk pengaman sebelum tanda dilarang merokok dan kenakan sabuk pengaman”.
Dalam bberapa bahasa,perbedaan tingkat sosial antar pembicara dengan pendengar diwujudkan dalam seleksi kata.Dalam bahasa jawa umpamanya,memakai kata nedo dan dahar (=makan);memilih kata omah dan griyo (=rumah);menyebut si alamat kowe,sampeyan atau pandjenengan,menunjukkan perbedaan sikap dan kedudukan sosiial pembicara pendengar dan orang yang bersangkutan.secara tradisional perbedaan bahasa(variasi bahasa)seperti itu disebut”tingkatan bahasa”dalam bahasa jawa ngoko,madyo,kromo dan kromo inggil kalau sistemnya dibagi empat disebut kesopanan berbahasa.
Uraian diatas membantu mengungkapkan bahwa sopan santun berbahasa dapat dilakukan oleh seeorang karena terdorong   sikap hormat kepada orang yang disapa seperti lazim dijumpai dalam hampir semua bahasa manusia.Dalam kasus-kasus bahasa jawa ,sopan santun berbahasa didorong tuntutan penyesuaian bahasa sebagai akibat dari struktur masyarakat priyayi,pedesaan,terpelajar dan sebagainya.[4]
3.Kemampuan berbahasa.
Menurut Koentjaraningrat (1990)Adanya hubungan tindak bahasa dengan sikap mental para penuturnya,buruknya kemampuan berbahasa Indonesia sebagian besar orang Indonesia termasuk kaum intelektualnya,adalah adanya sifat-sifat negative yang melekat pada mental sebagian besar orang Indonesia yaitu:[5]
a.Sifat suka meremehkan yang tercermin dalam  perilaku berbahasa “pokoknyamengerti”ini menyebabkan bahasa yang digunakan menjadi asal saja, tanpa mempedulikan bahasa yang digunakan itu benar atau salah. Tentu saja keinginan untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar,sesuai dengan kaidah menjadi tidak sama sekali,soal benar atau salah adalah soal guru bahasa atau penyuluh bahasa.bahkan itu terjadi di berbagai lembaga pendidikan yang ingin mengajarkan bahasa asing aktif.
b.Sikap mental merabas,tercermin dalam perilaku berbahasa dengan adanya keinginan untuk menggunakan bahasa yang baik tanpa keinginan belajar.
c.Sikap tuna harga diri,berarti menghargai bahasadiri orang lain,tapi tidak menghargai milik sendiri. Sikap ini tercermin dalam prilaku berbahasa dimana karena ingin selalu menghargai orang asing,maka selalu menggunakan bahasa asing dan menomorduakan bahasa sendiri. Lihat saja buktinya,demi menghargai orang asing,keset-keset yang berada di depan kantor pemerintah pun bertuliskan WELCOME bukan “Selamat Datang”;pintu-pintu diatas bertuliskan IN atau EXIT bukan”masuk atau keluar”;dan di pintu yang daunnya dapat dibuka dua arah dituliskan petunjuk PUSH dan PULL,bukannya “dorong dan tarik”,meskipun di tempat loket pembayaran STAIN Surakarta tidak menggunkan bahasa inggris namun bertuliskan Dorong dan Dorong,bukan tarik dan dorong.
Lebih dari itu Orang nomor satu  di Indonesia Presiden SBY,menjadi sorotan publik dan Media, saat memberikan sambutan pada pembukaan salah satu bank di Indonesia ,hal tersebut diakui oleh wakil ketua DPR.RI,Agung Pramono,setelah membaca teks sambutan Presiden,bahwa SBY terlalu berlebihan dalam menggunakan bahasa asing dalam sambutannya,[6]
d.Sikap menjauhi disiplin tercermin dalam prilaku berbahasa yang malas atau tidak mau mengikuti aturan atau kaidah bahasa,seperti “Dia punya mau tidak begini”seharusnya berbunyi “Kemauannya tidak demikian.
d.Sikap tidak mau bertanggung jawab tercermin dalam  prilaku berbahasa yang tidak mau  memperhatikan penalaran bahasa yang benar. Seperti “Uang iuran anggota terpaksa dinaikkan karena sudah lama tidak naik”sering terdengar.kalau mau bernalar dan bertanggung jawab alasamkenaikan itu bukan karena sudah lama tidak naik,tapi karena sudah tidak sesuai dengan biaya yang harus dikeluarkan.jadi,bertanggung jawab dalam bahasa artinya dapat mempertanggungjawabkan kebenaran isi kalimat itu.
e.yang terakhir sikap latah atau ikut-ikutan tercermin dalam bahasa yang mengikuti bahasa orang lain(bisanya ucapan pejabatatau pimpinan)yang sebenarnya tidak benar secara gramatikal.karena ada semboyan”memasyarakatkan oahraga dan mengolahragakan masyarakat”;maka diikuti ucapan itu. Padahal secara semantic dan gramatikal ungkapan”memasyarakatkan olahraga”memang benar,yakni menjadikan olahraga sebagai kebiasaan masyarakat; tapi ungkapan “mengolahragakan masyarakat”salah,sebab ungkapan itu berarti’masyarakat jadi olahraga’.kalau yang  dimaksud adalah menjadikan masyarakatitu berolahraga,maka bentuknya haruslah”memperolahragakan masyarakat”. Hal itu serupa dengan kebiasaan sebagian masyarakat yang menggunakan kata sapaan pada orang tunngal dengan kata-kata “antum” hal itu dikatakan karena ungkapan rasa sopan yang biasa dilakukan masyarakatr di timur tengah,padahal aturan yang ada di beberapa kaidah bahasa arab kata antum tersebut hanya untuk jamak (kalian)dalam versi bahasa Indonesia[7].sedangkan yang mengikuti aturan kaidah seperti “Nahnu/na”yang digunakan sebagai kata ganti orang pertama tunggal, diabaikan,meskpun kata itu dicontohkan dalam ayat al-qur’an,sedangkan antum tidak.
4.ETIKA BERBAHASA.
Etika berbahasa berkaitan dengan kode bahasa,norma-norma social dan system budaya yang berlaku dalam satu masyarakt oleh karena itu,etika berbahasa ini akan mengatur beberapa hal sebagai berikut:
a.Apa yang harus diatakan pada waktu dan keadaan terentu pada partisipan tertentu berkenaan dengan status social dan budaya dalam masyarakat tersebut.
b. Ragam bahasa apa yang paling wajar digunakan dalam situasi tertentu.
c. kapan dan bagaimana menggunakan giliran berbicara dan menyela pembicaraan.
d. Kapan kita harus diam.
 e. Bagaimana kualitas suara dan sikap fisik ketika berbicara.
Seseorang baru bisa disebut pandai berbahasa kalau sudah menguasai tatacara atau etika berbahasa.Aturan dalam berbahasa yang disebutkan iatas tidaklah merupakan hal yang terpisah,melainkan merupakan hal yang ,enyatu dalam  tindak laku berbahasa. Apa yang disebutkan pada butir(a)dan(b) merupakan penjelasan aturan sosialb berbahas ,sebagai sesuatu yang menjadi inti  pesoalan sosiolinguistik:”Siapa berbicara,dengan bahasa apa,kepada siapa,tentang apa,kapan,dimana dan dengan tujuan apa”. Sebagai contoh umpamanya,kit hendak menyapa seseorang maka kita harus tahu siapa orang itu,dimana,kapan,dan dalam situasi bagaimana,baru memilih kata sapaan yang tersedia. Amaenurut Kridalaksana (1984:14)dalam bahasa Indonesia terdapatsembilan jenis katauntuk menyapa seseorang,yaitu:
1.Kata ganti orang(engkau dan kamu)
2.nama diri,seperti Feri dan Fera.
3.Istilah perkerabatan,seperti bapak,ibu,kakak dan adik.
4.Gelar dan pangkat,sepertidokter,profsor,letnan, dan kolonel.
5.Bentuk nomina pelaku(pe+verba),seperti penonton,pendengar,dan  peminat.
6.Bentuk nomina+ku,seperti Tuhanku,Bangsaku,dan anakku
7.Kata-kata diktis seperti sini,situ, atau, disini.
8.Bentuk nomina lain,seperti awak,bung,dan tuan
9.Bentuk zero,tanpa kata-kata.
Butir (c)dan(d) yang juga merupakan aturan dalam etika berbahasa perlu pula dipahami agar kita bisa disebut sebagai orang yang berbahasa. Kita tidak bias seenaknya  menyela pembicaraan seseorang,untuk menyela harus memperhatikan situasi dan kondisi,tentunya juga dengan memberikan isyarat terlebih dahulu.[8]
Maka sangat tepat sabda Rosulullah SAW   
: عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال
من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليقل خيراً أو ليصمت , ومن كان يوم بالله واليوم الاخر فليكرم جاره , ومن كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه
  Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia berkata baik atau diam, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tetangga dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya”.
Berdasarkan hadist diatas maka seorang pembicara harus mempertimbangkan kata-kata yang ingin disampaikan kepada khalayak.
Butir (e) dalam aturan bahasa menyangkut masalah kualitas suara dan gerak gerik anggota tubuh ketika berbicara. Kualitas suara berkenaan dengan  volume dan nada suara.

5.Tindak Tutur
Bentuk ekspresi bahasa yang dapat digunakan untuk menunjukkan perbedaan perspektif adalah elemen-elemen interpersonal seperti tindak tutur (Speech acts). Pandangan yang melandasi tindak tutur, jika orang mengatakan sesuatu, orang akan melakukan sesuatu untuk tuturan itu. Hal itu merupakan aspek dalam fungsi interpersonal bahasa.  Contoh (a) dan (b) berikut dapat menjelaskan tindak tutur yang dapat menimbulkan perspektif berbeda.
 (a) Ada unjuk rasa
(b) Kongres Umat Islam merekomendasikan presiden dan wapres mendatang harus pria, beriman, dan bertaqwa (Jawa Pos, 7/11/98).    
Pada tuturan (a) dituturkan oleh seorang polisi, tidak sekedar menginformasikan sesuatu,tetapi juga berfungsi sebagai perintah ke lokasi untuk pengamanan.  Hal itu berbeda maknanya jika dituturkan oleh mahasiswa di kampus, ujaran itu bukan informasi tetapi ajakan. Demikian pula dalam (b), bagi mereka yang mengikuti  perkembangan pasca Pemilu 1999, maka dengan cepat  dapat menangkap bahwa ilokusi yang tersirat yang menghambat megawati Soekarno Putri maju menjadi presiden.[9]
6.Tabu
Tabu berasal dari kata taboo yang dipungut dari bahasa Tonga ,salah satu bahas dari rumpun bahasa Polinesia. Dimasyarakat Tonga kata Taboo merujuk pada tindakan yang dilarang atau harus dihindari. Bila tindakan saja dilarang,maka kata-kata yang merupakan symbol itupun dilarang.Dengan demikian kata tabu dapat didefinisikan sebagai kata yang tidak boleh digunakan,atau tiadak dipakai ditengah masyarakat.
Keterkaitan antara tabu dengan fenomena sopan santun ini adalah dalam dimensi prilaku social  anggota masyarakat dalam memanipulasi kata dan ujaran untuk  mengidentifikasikankedudukan dirinya ditengah masyarakat,serta untuk mempermaklumkan nilai budaya apa yang dianutnya.
7. Metafora
Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yng singkat : Bunga Bangsa, buaya darat,buah hati, cindera mata, dan sebagainya.Metafora tidak selalu berupa predikat,tetapi dapat juga menduduki fungsi subyek,obyek dan sebagainya. Dengan demikian metafora dapat berdiri sendiri sebagai kata.[10]
Menurut Aristoteles seperti yang dikutib Abdul Wahab,[11] metafora merupakan ungkapan kebahasaan yang menyatakan  uangkapan kebahasaan yang menyatakan hal-hal yang bersifat umum untuk hal-hal yang bersifat khusus dan sebaliknya. Metafora digunakan  sebagai ungkapan kebahasaan yang maknanya tidak bisa dijangkau secara langsung  dari lambang karena makna yang dimaksud terdapat pada predikasi ungkapan kebahasaan itu. Artinya, metafora  merupakan pemahaman pengalaman sejenis hal yang dimaksudkan untuk perihal lain. Metafora digunakan jurnalis untuk membangun perspektif dalam surat kabar. Berikut adalah contoh metafora yang dapat menimbulkan perspektif berbeda
(a) Gelombang mahasiswa mendatangi Gedung DPR Senayan mendesak agar anggota dewan ikut mengusut 4 mahaiswa yang ditembak di Universita Trisakti
 (b) Ibarat pemain sepakbola, saat ini penyelesaian utang PT Garuda Indonesia sudah memasuki injury time, tinggal menunggu peluit panjang.
Metaforik gelombang untuk menggambarkan laut yang bergulung-gulung dan menakutkan (a) metaforik injury time menggambarkan sedikitnya waktu PT Garuda Indonesia untuk melunasi utang(b).
 (c) Debitor Nakal Perlu Dicekal
 (d) Amin, Gus Dur, Hamzah, dan Nur Mahmudi Bertemu Mereka Bahas “Buah Simalakama” Mega
Kata nakal dalam (c) memiliki adanya tiga kesamaan sifat nakal yaitu (1) masih kanak-kanak, sehingga kurang mampu membedakan mana yang benar dan mana yan salah, (2) sudah tahu aturan yang sudah disepakati tetapi tetap saja melanggar, (3) sudah dinasihati tetapi tidak memperbaiki. Demikain dengan “buah simalakama”(d), jika Megawati terpilih menjadi presiden keadaan belum tentu bertambah baik. Sebaliknya jika Megawati tidak terpilih akan berpotensi buruk. Bagi partai berbasis massa Islam  perempuan memang tidak diijinkan menjadi pemimpin.
Sebagai penulis seorang jurnalis harus mampu menggunakan dan membaca bahasa khalayak untuk menghindar dar terjadi kesalah pahaman khalayak dalam merespon sebuah pesan yang disampaikan karenabahasa merupkan sarana Komunikasi utama yang berlaku,sehingga agar terhindar dari pra-sangka yang tidak sesuai maka harus  ada kontrol berbahasa karena bahasa dengan sikap mental para penuturnya terdapat suatu hubungan yang tidak terpisahkan,serta nilai kesopanan dalam berbahasa di esuaikan dengan situasi dan kondisi dimana Komunikan dan komunikator berada.
Sopan sntun adalah memberi penghargan atau menghormati orang yang diajak bicara,khususnya pendengar atau pembaca. Rasa hormat di sini tidak berarti memberikan penghargaan atau menciptakan kenikmatan melalui kata-kata,atau empergunakan kata-kata yang manis sesuai dengan basa-basi dalam pergaulan masyarakat beradab
Setiap masyarakat yang terlibat dalam kegiatan komunikasi selalu  berusaha agar orang lain dapat memahaminya dan disamping itu ia harus memahami orang lain. Dengan cara inilah terjalin komunikasi  dua arah yang baik dan harmonis.

سلامةالانسان بحفظ السان(الحديث)
Keselamatan manusia tergantung pada bagaimana mampu menjaga tutur kata.
Semoga  makalah ini dapat  Memberikan sumbangsih bagi ilmu komunikasi khususnya Mahasiswa Dakwah & Komunikasi STAIN Surakarta,dalam menjalankan aktifitas yang selalu berhubungan dan berkomunikasi dengan masyarakat.












[1] Gorys Keraf “Diksi dan Gatya Bahasa”(Gramedia Pustaka Utama Jakarta,2008)Hal:114
[2] Paul Ohoiwutun”Sosiolinguistik” (Jakarta Vispro,:2002)hal:90-91
[3] Eriyanto, Analisis Wacana Pengantar Analisis Teks Medeia. (Yogyuakarta: LKiS, 2001) hal 28
[4] Paul Ohoiwutun”Sosiolinguistik” (Jakarta Vispro,:2002)hal:86-95
[5] Chaer Abdul,Agustina Leonie “Sosiolinguistik perkenalan awal”(Jakarta Rineka cipta:2004)hal:169
[6]. Metro TV,Selasa(04/01/2010)Pukul 19.00 WIB.
[7] Imam Ibnu Malikjalaluddi assyuyuthi Syarah Ibnu ‘aqil,(Muhammad bin Ahmad Nibhan Surabaya) hal:16
[8]Chaer Abdul,Agustina Leonie “Sosiolinguistik perkenalan awal”(Jakarta Rineka cipta:2004)hal:172-173
[9] Leech, Geoffrey. Prinsip-Prinsip Pragmatik (Terj. MDD Oka) (Jakarta: UI Press, 1993)
[10] Gorys Keraf “Diksi dan Gatya Bahasa”(Gramedia Pustaka Utama Jakarta,2008)Hal:139
[11] Wahab, Abdul. Isu Lingtuistik dan Pengajaran bahasa dan Sastra (Surabaya: Airlangga University Press.